Kamis, 16 Oktober 2014

Ikhtisar Kitab Vinaya Pitaka




Vinaya disebut juga sebagai silasikkha atau sikkhapada. Silasikkha atau sikkhapada memiliki pengertian mengusir, melenyapkan, memusnahkan segala perilaku yang menghalangi kemajuan dalam peningkatan rohani atau sesuatu yang membimbing keluar dari samsara. Dari istilah tersebut. dengan menjalankan vinaya akan dapat menjauhkan seseorang dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun makhluk lain. Vinaya sebagai upaya untuk menekan kekotoran batin, dapat dijalankan oleh siapaun sebagai jalan untuk membimbing seseorang keluar dari samsara.
Vinaya sebagai jalan untuk membimbing seseorang terbebas dari samsara terbagi menadi dua jenis, yang masing-masing dilaksanakan oleh umat buddha. Jenis vinaya yang pertama merupakan Agariya Vinaya untuk gharavasa (seorang perumah tangga). Vinaya yang dilaksanakan oleh garavasa merupakan tahap pertama untuk memasuki kehidupan beragama yang yang lebih tinggi dan luhur. Jenis vinaya yang kedua merupakan Agariya vinaya untuk pabbajita (petapa). Vinaya yang dilaksanakan seorang petapa tahap lanjutan yang digunakan untuk melindungi petapa tersebut dari hal-hal yang akan merugikan atau merintangi jalan yang mereka tempuh menuju nibbana. Vinaya yang dilaksanakan oleh dua kelompok umat buddha untuk seorang perumah tangga dan seorang petapa tentunya akan memiliki hasil dan tujuan yang berbeda pula.
Vinaya yang dilaksanakan oleh para petapa untuk tujuan menuju nibbana akan mendatangkan manfaat yang begitu besar.  Vinaya tersebut memberi manfaat yang besar karena dikarena didalam vinaya  terdapat sila, peraturan-peraturan (sikkhapada) dan disiplin (anadesana), tradisi kebhikkhuan dan keviharaan. Untuk mendapatkan manfaat dari menjalankan vinaya, haruslah dijalankan dengan sungguh-sunguh serta adanya landasan pengertian yang benar.  Manfaat yang diperoleh dari melaksanakan vinaya tersebut adalah untuk:
1.      Kebaikan sangha (tanpa vinaya, eksitensi sangha tidak akan  bertahan lama).
2.      Kesejahteraan sangha (sehingga bhikkhu akan sedikit mendapatkan rintangan).
3.      Mengendalikan para bhikkhu yang tidak teguh (yang dapat menimbulkan persoalan dalam sangha).
4.      Kesejahteraan bhikkhu yang berkelakuan baik (karena dalam pengamalan siladengan baik menyebabkan kebahagiaan hidup sekarang ini).
5.      Melindungi dari, atau melenyapkan kilesa (kekotoran batin).
6.      Mencegah timbulnya kilesa yang baru (kilesa tidak akan timbul pada orang yang memiliki sila yang baik).
7.      Memuaskan mereka yang belum puas dengan dhamma (karena orang yang belum mengenal dhamma akan puas dengan tingkah laku bhikkhu yang baik).
8.      Menambah keyakinan mereka yang telah mendengar dhamma (karena orang yang telah mendengar dhammaakan bertambah kuat melihat bhikkhu yang baik).
9.      Menegakkan dhamma yang benar (dhamma akan bertahan lama bila vinaya dilaksanakan dengan baik oleh bhikkhu)
10.  Manfaat vinaya itu sendiri (vinaya dapat memberikan manfaat kepada makhluk-makhluk, terbebas dari samsara)
Didalam kitab Anguttara nikaya terdapat dua tujuan lain yang diperoleh seorang bhikkhu dengan menjalankan vinaya yaitu: yang pertama bertujuan untuk memperoleh sokongan gharavassa dan yang kedua bertujuan untuk memusnahkan kelompok bhikkhu yang beritikat buruk. Butiran pertama merupakan hal yang terpenting untuk sangha dan yang kedua memperlihatkan bagaimana vinaya telah melindungi sangha.

Bagian kitab Vinaya Pitaka

Dari sejarah penyusunan kitap suci tipitaka, vinaya pitaka didalam versi bahasa pali tersusun secara sistematik sebagai berikut:
A.    Sutta Vibhanga
Didalam Sutta Vibhanga terdiri dari:
1.      Maha Vibhanga disebut juga Bhikkhu Vibhanga, terdiri 227 peraturan latihan yang menjadi sumber dari pada patimokkha-sila. Bhikkhu Vibhanga terdiri dari:
Ø  Parajika
Bagian ini terdiri dari empat disiplin apabila dilanggar menyebabkan secara otomatis gugur kebhikkhuanya. Parajika ini meliputi
Ø  Sanghadisesa
Bagian ini terdiri dari tiga belas disiplin. Bila dilangar hanya dapat diselesaikan oleh sangga yang terdiri dari sekurang-kurangnya ada 20 orang.
Ø  Aniyata
Bagian ini terdiri dari dua disiplin yang berkenaan dengan pelanggaran yang tidak jelas.
Ø  Nissagiya Pacittiya
Bagian ini terdiri dari 30 disiplin apabila dilanggar menyebabkan kejatuhan  dalam mental –spiritual.
Ø  Pacittiya
Bagian ini terdiri dari 92 disiplin apabila dilanggar menyebabkan kemerosotan sila.
Ø  Patidesaniya
Bagian ini terdiri dari empat disiplin apabila dilanggar memerlukan pengakuan bersalah.
Ø  Sakhiyadhamma
Bagian ini terdiri dari 75 disiplin tatakrama
Ø  Adhikaranasamatha
Bagian ini terdiri dari tujuh peraturan peraturan yang berkenaan dengan proses hukum untuk penyelesaian permasalahan dalam sangha.

2.      Cula Vibhanga, disebut juga bhikkhuni Vibhanga yang terdiri dari 311 peraturaan-latihan yang juga merupakan sumber patimokha-sila untuk para bhikkhu dengan susunan yang sama dengan pathimokha-sila untuk para bhikkhu. Bhikkhu vibhanga terdiri dari:
Ø  Delapan Parajika
Ø  17 Sanghadisesa
Ø  30 Nissagiya
Ø  166 Pacittia
Ø  Delapan Patidesania
Ø  75 Sekhiyadhamma
Ø  7 Adhikaranasamatha

B.     Kandhaka
Kandhaka terdiri dari:
1.      Maha vagga
Maha vaga mengandung catatan rangkaian peristiwa mulai sesaat setelah mencapai penerangan sempurna sampai terbentuknya sangha dan berbagai cara pentabihsan calon bhikkhu serta peristiwa-peristiwa yang menyebabkan timbulnya suatu peristiwa-pelatihan. Peraturan-pelatihan itu berada tidak termasuk pathimokha-sila. Maha vaga terdiri dari:
Ø  Mahakhanda
Bagian ini mengenai peristiwa sesaat setelah mencapai penerangan sempurna hingga terbentuknya sangha dan berbagai metoda penerimaan menjadi bhikkhu.
Ø  Uposatha khandhaka
Bagian ini mengenai pengumuman hari-hari uposatha dan berbagai jenis sima.
Ø  Vassupanayika khandhaka
Bagian ini mengenai memasuki vassa dan cara pelaksanaannya; yang disampaikan oleh mahinda kepada raja devanampiyatissa bagaimana perlunya mendirikan sebuah vihara di cetiyagiri.
Ø  Pavarana khandhaka
Bagian ini mengenai hari pavarana, pada saat ini bhikkhu diminta untuk berbicara satu dengan yang lainnya tentang setiap kesalahan atau perilaku yang tidak patut yang mereka lihat, dengan atau curigai yang dilakukan selama vassa; dan bilamana pelaksanaan vassa itu gagal.
Ø  Chamma khandhaka
Bagian ini mengenai diperbolehkannya bhikkhu memakai sendal oleh Sang Buddha.

Ø  Bhesajja khandha
Bagian ini mengenai peraturan-peraturan untuk bhikkhu yang akan menjalani oprasi dan pemakaian obat-obatan yang diijinkan oleh Sang Buddha
Ø  Kathina khandhaka
Bagian ini mengenai peraturan-peraturan latihan yang berhubungan dengan kathina. Penentuan oleh bhikkhu (yang bervassa di tempat itu) kepada siapa kain dan jubah akan diserahkan atas persetujuan sangha.
Ø  Civara khandhaka
Bagian ini mengenai peraturan latihan yang berhubungan dengan bahan jubah dan enam jenis jubah yang diperolehkan untuk bhikkhu.
Ø  Champoyya
Bagian ini mengenai kegiatan-kegiatan sangha yang patut dan tidak patut. Kasus bhikkhu-bhikkhu campa.
Ø  Kosambika khandaka
Bagian ini mengenai perselisihan di kosamhi dan di hutan Parileyyaka sewaktu Sang Buddha menjalani vassa ke-10. Kasus bhikkhu-bhikkhu di kosamhi
2.      Culla Vagga
Culla Vaga mengandung catatan sejarah peraturan pengelolaan sangha sampai kepada sangayana ke II, seratus tahun setelah Sang Buddha parinibhana. Didalam Culla Vibhanga terdapat beberapa acuan pada sutta vibhanga. Hal ini mewujudkan otoritas Sutta Vibhanga  dalam penyusunan Culla Vibhanga. Culla Vagga terdiri dari:
Ø  Kamma khandhaka
Bagian ini mengenai tindakan-tindakan formal yang harus diambil oleh Sangha dalam keadaan tertentu.
Ø  Parivasikha khandhaka
Bagian ini mengenai tingkah laku bhikkhu yang dalam masa percobaan karena beberapa pelanggaran disiplin.
Ø  Samuccaya khandhaka
Bagian ini mengenai hukum dan rehabilitas setelah menjalani hukuman.
Ø  Samatha khandhaka
Bagian ini mengenai hukuman dan penyelesaiannya.
Ø  Kudhakavattu
Bagian ini mengenai pelanggaran-pelanggaran ringan seperti memelihara jenggot dan kumis
Ø  Sanasana khandhaka
Bagian ini mengenai perilaku yang baik para bhikkhu di dalam tempat tinggal (kuti).
Ø  Sanghabheda khandhaka
Bagian ini mengenai peristiwa-peristiwa yang menjurus ke perpecahan sangha yang disebabkan oleh devadatta.
Ø  Vatta khandhaka
Bagian ini mengenai kegiatan-kegiatan rutin kevihara dan pelaksanaan-pelaksanaan sehari-hari, seperti  pindatta, makan, dan berdiam dalam hutan.
Ø  Patimokhathapana khandha
Bagian ini mengenai saat pembacaan patimokha.
Ø  Bhikkhuni khandhaka
Bagian ini mengenai pembentukan sangha bhikkhuni dan delapan peraturan keras untuk bhikkhuni.
Ø  Pancasati khandhaka
Bagian ini mengenai sanghayana pertama.
Ø  Sattasati khandhaka
Bagian ini mengenai sanghayana kedua.

C.     Parivara
Parivara merupakan rangkuman dan pengelompokan peraturan-peraturan dalam vinaya yang disusun dalam bentuk tanya jawab untuk tujuan memberikan petunjuk dan pemeriksaan. Aturan-aturan yang ada didalam sutta vibhanga dan khandha-khandha disertai dengan cerita mengenai terjadinya aturan tersebut. Didalam Parivara diaantaranya bersifat benar-benar formal yang semata-mata menunjukan bahwa para bhikkhu atau beberapa bhikkhu telah melakukan pelanggaran atau yang mengikuti kebiasaan tertentu yang yang menyebabkan Sang Buddha menetapkan  suatu ketetapan. Akan tetapi, cerita yang nyata dimasukkan khusus dalam Maha Vagga dan Culla Vagga serta sutta dan sutta pitaka.

Posisi Kitab Suci Vinaya Pitaka sebagai bagian Tipitaka
Vinaya merupakan hal yang sangat penting bagi eksistensi agama buddha. pentingnya vinaya bagi para bhikkhu  ditetapkan pada sidang sanghayana pertama yang dipimpin oleh Arahat Maha Kassapa. Dalam sanghayana pertama para arahat memutuskan vinaya pitaka sebagai bagian pertama di dalam kitab suci tipitaka. Penetapan tersebut didasarkan “vinaya adalah jiwa agama (sasana); selama vinaya tegak berdiri, agama pun tegak berdiri. Oleh karena itu, marilah kita kita ucap-ulang vinaya terlebih dahulu”. Dengan menjalankan vinaya akan mempelihara dhamma yang telah diajarkan oleh Sang Buddha seumpama seutas benang mengikat bunga-bunga menjadi satu, sehingga tidak mudah dicerai beraikan oleh angin.
Keterkaitan antara dhamma dengan vinaya tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi bagian-bagian yang utuh. Mengajarkan dhamma tanpa vinaya, sama artinya dengan mengajarkan jalan tanpa menunjukan bagaimana cara memulai dan menempuhnya. Sebaliknya, vinaya tanpa dhamma hanya merupakan peraturan-peraturan kosong yang sedikit manfaatnya. Hal terseebut juga berlaku bagi bhikkhu maupun gharavasa.
Setiab bhikkhu berkewajiban untuk melaksanakan vinaya dan kriteria baik-buruknya seseorang bhikkhu berdasarkan kepatuhanya terhadap vinaya, maka akan timbul dua komplikas:
1.      Mereka yang tidak taat dan tidak sunguh-sunguh melaksanakan vinaya. Oleh sebab itu sukar mengendalikan bhikkhu sangha dengan baik.
2.      Mereka yang menlaksanakan vinaya dengan sungguh-sungguh, tetapi dengan membabi buta dan mengangap diri mereka lebih baik daripada bhikkhu-bhikkhu yang lainnya yang mereka cela karena tidak menjalankan vinaya. Mereka akan merasa jengkel bila berada dalam pertemuan bhikkhu sangha. Oleh karena sikap mereka yang demikian itu, mereka tidak akan meraih kebahagiaan.

Kesimpulan:
Vinaya pitaka merupakan peraturan disiplin yang ditetapkan oleh Sang Buddha untuk mengatur perilaku bhikkhu dan bhikkhuni. Dengan menjalankan vinaya dengan sungguh-sungguh akan membawa kebahagiaan pada mereka yang menjalankan dengan pengertian benar. Akan tetapi, vinaya yang dijalankan dengan kesungguhan dengan pengertian salah akan menimbulkan kejengkelan, kegelisahan atau ketegangan bagi bhikkhu yang menjalankannya dengan pandangan salah.

Refrensi:
_ _ _. 2003. Materi Kuliah Agama Buddha Untuk Perguruan Tinggi Agama Buddha. Jakarta: Dewi Kayana Abadi.
Rashid, Drs. Teja S.M. 1997. Sila dan Vinaya. Jakarta: Buddhis Bodhi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar