Rabu, 01 April 2015

TANTRAYANA DI TIBET




TANTRAYANA DI TIBET
Pengertian Tantrayana
Pada tahun 747 masehi, Maha Guru Padma Sambhava menjalankan misi ke Tibet. Beliau pada masa mudanya adalah seorang pangeran dan sangat menyenangi hal-hal yang bersifat magis. Beliau memiliki kemampuan supranatural yang dipadukan dengan ajaran-ajaran Hyang Buddha. Berkat kemampuan beliaulah, dukun-dukun Tibet dapat ditundukkan dan memperoleh simpati dari bangsa Tibet.
Tantrayana di Tibet berkembang hingga menjadi tiga periode. Yakni periode pertengahan dan pembaharuan serta periode permulaan gelar Dalai Lama (dari abad XVII hingga sekarang ini). Tantrayana merupakan aliran dalam agama buddha (mahayana) yang bersifat esoteric atau (rahasia). Aliran ini mengutamakan praktek-perakatek  atau upacara-upacara keagaman yang bersipat mistik dengan sarana-sarana seperti: mudra,daranai mantra serata mandalapa. Tantra ini juga menekankan praktek mistik dalam usahanya mencapai persatuan dengan kosmos dan melalui sarana-sarana seperti sikap tubuh (Mudra), konsentrasi pada ucapan (Dharani dan Mantra) dan pikiran (Yoga) yang dibantu dengan simbol religius lainnya.
Berasal dari kosa kata Sanskrit "Vajra" yang berarti berlian dalam aspek kekuatannya, atau halilintar dalam aspek kedahsyatan dan kecepatannya, serta dari kata "yana" yang berarti wahana/kereta. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Wang Shifu dengan lugas di atas, Vajrayana merupakan Jalan Intan. Kata "Tantra" sendiri berarti "Tenun" dalam bahasa Sansekerta, merujuk kepada prakteknya yang bertahap namun pasti, seperti tenun itu ibaratnya. Adapun tujuan akhir dari pada Vajrayana, ialah : Mencapai kesempurnaan dalam pencerahan dengan tubuh fisik kita saat ini di kehidupan ini juga tanpa harus menunggu hingga kalpa-kalpa yang tak terhitung .
Ajaran-ajaran Buddha Sakyamuni dirangkum ke dalam Vinayana Abhidarma Sutra dan Tantra. Tantra sendiri diturunkan salah satunya kepada Bhiksu Arya Kashyapa murid sang Buddha yang terkenal dengan latiahan-latihan kerasnya.
Mantra merupakan pengulangan kata-kata tertentu yang diaggap suci merupakan hasil akhir dari suatu peringkasan sutra dalam beberapa tahapan.  pertama, sebuah sutra panjang diringkas menjadi beberayang hanya terdiri dari beberapa suku katasar). Hrdyaini diringkas menjadi dharani yang terdiri dari satu atau dua baris kalimat , kemudian diringkas menjadi  bentuk mantra yang hanya terdiri dari beberapa suku kata. mantra diringkas menjadi bija-mantra (benuh mantra) yang hanya terdiri atas satu suku kata tunggal. Mantra bukan magik, melainkan melaikan sarana budayaan diri,pengembangan mental (bhavana), trasformasi kesadaran untuk merealisasi peribadi agung (Adhyatman), membantu seseorang terbesar dari jerat jerit duniawi,mencapai penyatuan dengan obyek pemujaan.
Dalam praktek upacara keagaman tantra yang bersifat esoterik-mistik itu yang fungsinya merealisasi hubungan sepurna kebuddhan seperti yang dirumuskan dengan istilah buddha dalam diriku,aku dalam buddha. Upacra ini biasanya  memiliki tiga aspek atau  saran :
1.      Mudra                         : jari berjalin dalam sikap-sikap tubuh tertentu
2.      Dharani                       : syairmistik dan mantra sabda sejati
3.      Dharana                       : kosentrasi yoga
Disamping mudra dharani dan mantra serta kosentrasi yoga, unsur lain yang tak dapat ditinggalkan dalam praktek meditai tantra adalah mandala, yaitu sebuah lingkaran seperti diagram  psiko-kosmos yang didalamnya intisari ajaran tantra tergambar aksara-aksara atau simbol-simbol visual..Terdadapat empat mandalayang melambangkan tiga misteri badan,ucapan,dan pikiran yaitu :
1.      Maha Mandala : gambar tampat kediaman para Buddha dan makhluk agung lainnya
2.      Samaya Mandala :  juga tempat kediaman para Buddha dan makhluk agung lainya ditambah dengan  benda duniawi
3.      Dharma Mandala : Berbentuk bija aksara melambangkan para dewa dan ariya lainnya
4.      Karma Mandala : Figur-figur buatan misalnya arca.

Identitas Tantrayana di Tibet
Identitas mazhab Tantrayana di Tibet dapat diuraikan sebagai berikut :
  1. Faktor pertama adalah gejala luar biasa atau fenomena pelbagai matra atau ukuran yang dikenal sebagai silsilah turun-temurun (lineage). Silsilah turunan utama tersebut meliputi para Guru yang diawali dengan Sang Buddha, para acharya yang berasal dari India sampai dengan guru dari Tibet pada masa-masa sekarang ini, yang telah memberikan / menurunkan ajaran Tantrayana baik secara metode lisan maupun tulisan menurut tradisi turun-temurun.
  2. Faktor yang lain adalah kelompok ajaran secara lisan dan tulisan yang dihasilkan oleh para anggota daripada silsilah turun temurun (lineage) tersebut, termasuk uraian, karangan, komentar, tafsiran, ulasan, tekstual yang mengandung unsur ritual dan sebagainya.
  3. Sekte-sekte dikenal pula dengan cara latihan masing-masing yang khas dan unik. Misalnya sekte Kar-gyu-pa menitik beratkan meditasi, yang umumnya disebut tradisi meditasi atau samadhi. Sedangkan sekte Kah-dam-pa ataupun sekte Ge-lup-pa dikenal memiliki tradisi disiplin intelektual.
  4. Faktor lain yang menonjol dan menarik perhatian adalah gabungan biara/ monastery tempat para Lama/Bhiksu yang berfungsi sebagai tempat belajar serta tempat latihan religi. Biasanya suatu biara merupakan markas besar yang resmi bagi satu sekte sambil dijadikan sebagai suatu contoh atau model bagi yang lainnya. Setiap sekte besar memiliki banyak biara. Sedang sekte yang kecil hanya memiliki satu atau dua biara saja.
  5. Setiap sekte juga dikenali dengan memimpin spiritual yang berkedudukan tinggi, biasanya disebut "Tulku".
Sekte-sekte Tantrayana yang utama di Tibet adalah :
1.      Sekte nim-ma-pa (sekte jubah merah/ancient red sect):
Anggota sekte ini selalu memakai jubah dan topi merah. Mereka merupakan keturunan dari garis silsilah (lineage) dari maha guru Padma sambhava.
Mereka menjalankan ajaran esoteric (ajaran rahasia). Ajaran dan interpretasi sekte ini merupakan penggabungan dari Buddha Dharma dan Bon-pa dan di dalam prakteknya mereka tidak hanya merupakan jalan pikiran yang rasional, namun juga memerlukan inspirasi guna menguasai :
o   Dasar permulaan ajaran di transfer langsung dari para acarya India.
o   Mempertahankan tradisi teks-teks kuno yang disimpan / dipendam dalam bumi (tanah) seperti Kitab Bardo Thodol.
Padmasambhawa dan Santarakshita sebagai pendiri pada pertengahan abad ke 7. Sekte ini merupakan penggabungan dengan unsur bon-pa. Semua ide sekte ini adalah sesuai dengan Tantra kidal di India, dan merupakan sekte lama dari lamaisme. Sekte tersebut kembali pada tahun 1250, dan adalah jasa dari Gu-ru Chos-dbyang. Sekte ini timbul sub sekte yaitu: Dorjetak-pa, Nandag-pa, Mindollin-pa, Kartok-pa, Lhatsun-pa. Sekte ini membedakan 2 tingkat tradisi mereka, ocapan dari guru-guru orang India dan sesuatu yang berharga terkubur, yang merupakan kitab-kitab suci disembunyikan oleh Padmasambhawa.
2.      Sekte Kah-dam-pa
Sekte ini dipelopori oleh Atissa Srinyana Dipankara pada tahun 1042 masehi. Atissa pada tahun 1012 pernah mengunjungi Sriwijaya dan berguru pada Maha Acarya Dharmapala selama duabelas tahun, Atissa kembali ke Tibet pada tahun 1042. Beliau wafat tigabelas tahun, kemudian perkembangannya dikemudian hari sekte ini bergabung denga Ge-lug-pa. Sekte ini mewakili pusat inti tradisi dari Tibet dan membentuk batasan dengan pandita india.
3.      Sekte Ge-lug-pa (Sekte jubah kuning)
Anggota sekte ini mengenakan jubah berwarna kuning. Sekte ini merupakan pembaharuan dari sekte Kah-dam-pa dan dipelopori oleh Tzong-ka-pa pada abad XV. Gelug-pa menerima gelar Ta-le atau dalai  dari suku mongol.
4.      Sekte Kar-gyu-pa
Sekte ini didirikan oleh Lama Marpa pada abad XI. Garis silsilah (lineage) sekte ini diawali dengan Buddha Vajradhara (symbol Penerangan Agung). Para siswa sekte ini dalam pelaksanaan latihan religi dan upacara ritualnya wajib memandang gurunya sebagai Vajradhara, supaya dapat lebih mendekatkan diri pada Sang Buddha, sambil menjamin keberhasilan hubungan erat antara guru dan murid. Salah seorang siswa Marpa yang terkenal adalah Milarepa, yang juga dikenal sebagai filsuf dan penyair terkenal dari Tibet.
Perbedaan ke Empat Sekte di Tibet
Penggunaan istilah-istilah teknis adalah salah satu perbedaan utama Tantrayana. Para Gelugpa berkata bahwa cita itu, yang berarti kesadaran akan sasaran-sasaran, bersifat tidak tetap, sementara para Kagyupa dan para Nyingmapa menegaskan sifatnya tetap. Dua kedudukan makna tersebut tampak bertentangan dan saling terpisah; tapi, sebetulnya, tidak. Istilah “tidak tetap” yang digunakan para Gelugpa itu bermakna bahwa kesadaran akan sasaran-sasaran bergonta-ganti dari waktu ke waktu dalam pengertian bahwa sasaran-sasaran yang disadari seseorang berubah tiap waktu. Dengan istilah “tetap”, para Kagyupa dan Nyingmapa bermaksud bahwa kesadaran akan sasaran-sasaran itu berlanjut selamanya; sifat dasarnya tetap tak terpengaruh oleh apapun dan karenanya tidak pernah berubah. Masing-masing pihak akan saling setuju, tapi karena mereka menggunakan istilah-istilah dengan makna yang berbeda, tampak seolah-olah pemikiran mereka saling berbenturan. Para Kagyupa dan Nyingmapa pasti akan beranggapan bahwa kesadaran sasaran seseorang akan melihat atau mengenali sasaran-sasaran yang berbeda tiap waktu; sementara para Gelugpa pasti akan sepakat bahwa cita seseorang merupakan arus kesadaran sasaran yang tak bermula dan tak berakhir.
Perbedaan lain di antara aliran-aliran Tibet adalah sudut pandang tempat mereka bertolak dalam menjelaskan berbagai gejala. Menurut Jamyang-kyentse-wangpo, seorang guru Rimey (gerakan niraliran), para Gelugpa mengajukan penjelasan dari sudut pandang “sang dasar”, yaitu dari sudut pandang makhluk-makhluk biasa, non-Buddha. Para Sakyapa menjelaskan dari sudut pandang “sang jalan”, yaitu dari sudut pandang mereka yang amat sangat maju dalam jalan menuju pencerahan. Para Kagyupa dan Nyingmapa menjelaskan dari sudut pandang “sang hasil”, yaitu dari sudut pandang seorang Buddha. Karena perbedaan ini agak mendalam dan rumit untuk dipahami, biar saya tunjukkan titik mulanya saja untuk menjelajahi persoalan ini. Dari sudut pandang sang dasar, orang hanya bisa memusatkan perhatian pada kehampaan atau wujud sekali sewaktu. Oleh karena itu, para Gelugpa bahkan menjelaskan meditasi arya atas kehampaan dari sudut pandang ini. Arya adalah makhluk berkesadaran tinggi dengan pemahaman atas kehampaan yang lempang dan nirsekat. Para Kagyupa dan Nyingmapa menekankan pada tak dapat dipisahkannya dua kebenaran itu: kehampaan dan wujud. Dari sudut pandang seorang Buddha, orang tak mungkin dapat bicara tentang kehampaan saja atau wujud saja. Karenanya, mereka bicara dari sudut pandang segala sesuatu yang telah lengkap dan sempurna. Penyajian dzogchen oleh Bon setakat dengan sikap penjelasan ini. Satu contoh penyajian Sakya dari sudut pandang sang jalan adalah pernyataan bahwa cita bercahaya jernih (kesadaran terhalus dari tiap makhluk tersendiri) itu penuh sukacita. Kalau hal itu benar pada tingkat sang dasar, maka cita bercahaya jernih yang mewujud dalam kematian akan penuh sukacita pula, padahal tidak begitu. Akan tetapi, pada sang jalan, orang menjadikan cita bercahaya jernih sebagai cita penuh sukacita. Karena itu, ketika para Sakyapa berbicara tentang cita bercahaya jernih sebagai hal yang penuh sukacita, ini pasti berasal dari sudut pandang sang jalan.
Perbedaan lain muncul dari kenyataan bahwa ada dua ada dua jenis pelaku rohani: mereka yang melalui jalan langkah-demi-langkah dan mereka yang mengalami segalanya seketika. Para Gelugpa dan Sakyapa kebanyakan bicara dari sudut pandang mereka yang berkembang melalui tingkat-tingkatan; para Kagyupa, Nyingmapa, dan Bonpo, khususnya dalam penyajian mereka atas golongan tantra tertinggi, kerap bicara dari sudut pandang mereka yang mengalami segalanya secara seketika. Walau penjelasan yang muncul mungkin memberi kesan bahwa masing-masing pihak menegaskan satu saja jenis cara di sepanjang jalan, itu hanya perkara ragam mana yang mereka tekankan dalam penjelasannya.
Seperti tadi disebutkan, semua aliran Tibet menerima Madhyamaka sebagai ajaran paling mendalam, tetapi cara mereka memahami dan menjelaskan berbagai tata ajaran filsafati Buddha India agak berbeda-beda. Perbedaannya terasa paling kuat dalam cara mereka memahami dan melakukan Madhyamaka dalam tantra tertinggi. Karena ini juga merupakan pokok yang sangat rumit dan mendalam, kita coba untuk mencerap pemahaman awalnya saja.
Pendekatan kedua adalah menekankan meditasi pada cita bercahaya-jernih itu sendiri, yang tanpa seluruh tingkat cita atau kesadaran yang lebih kasar. Dalam lingkung ini, kesadaran bercahaya-jernih diberi nama “kehampaan-lain”; ia tanpa seluruh tingkat cita lebih kasar lain. Kehampaan-lain merupakan pendekatan utama dalamKagyupa Karma, Drugpa, dan Shangpa, para Nyingmapa, dan sebagian Sakyapa. Tentu saja, masing-masing memiliki cara penjelasan dan meditasi yang agak berbeda. Kemudian, salah satu wilayah perbedaan utama di antara berbagai perguruan Tibet adalah cara mereka memaknai kehampaan-diri dan kehampaan-lain; entah itu mereka menerima yang satu, yang lain, atau keduanya; dan apa yang mereka tekankan dalam meditasi untuk memperoleh kesadaran bercahaya-jernih atas kehampaan.
Terlepas dari perbedaan mengenai kehampaan-diri dan kehampaan-lain ini, semua perguruan Tibet mengajarkan cara-cara memasuki kesadaran bercahaya-jernih atau, dalam tata dzogchen, padanannya: rigpa, kesadaran murni. Di sini muncul perbedaan besar lain. Para Kagyupa non-dzogchen, Sakyapa, dan Gelugpa mengajarkan tentang melarutkan tingkat-tingkat cita atau kesadaran yang lebih kasar dalam berbagai tahap untuk memasuki cita bercahaya-jernih. Pelarutan itu dicapai baik dengan mengupayakan saluran-tenaga halus, angin, cakra, dan seterusnya, atau dengan secara cergas membangkitkan lebih banyak lagi keadaan kesadaran yang bersukacita dalam tata-tenaga halus tubuh. Para Nyingmapa, Bonpo, dan para pelaku rohani silsilah-silsilah dzogchen Kagyupa mencoba untuk mengenali dan dengan demikian memasuki rigpa yang mendasari tingkat-tingkat kesadaran yang lebih kasar, tanpa benar-benar terlebih dahulu melarutkan tingkat-tingkat yang lebih kasar itu. Akan tetapi, karena awalnya di pelatihan mereka terlibat dalam latihan-latihan dengan saluran-tenaga, angin, dan cakra, mereka mengalami bahwa tingkat-tingkat kesadaran mereka yang lebih kasar dengan sendirinya larut tanpa upaya sadar-sengaja lebih lanjut ketika mereka akhirnya mengenali dan memasuki rigpa.
Malah, para Sakyapa, Kagyupa, dan Nyingmapa menggunakan banyak kosakata Chittamatra bahkan dalam penjelasan-penjelasan Madhyamaka mereka, khususnya dalam hal tantra tertinggi. Para Gelupa jarang sekali melakukan hal yang sama. Akan tetapi, ketika para non-Gelugpa menggunakan istilah-istilah teknis Chittamatra dalam penjelasan-penjelasan Madhyamaka tantra tertinggi, mereka memaknainya berbeda dengan ketika mereka menggunakannya secara ketat dalam lingkung sutra Chittamatra. Contohnya, alayavijinana (kesadaran landasan) merupakan satu dari delapan jenis kesadaran terbatas dalam tata sutra Chittamatra. Dalam lingkung Madhyamaka tantra tertinggi, kesadaran landasan adalah sebuah kawan-kata bagi cita bercahaya-jernih yang terus berlanjut bahkan ke dalam ranah ke-Buddha-an.
Kitab Suci Mazhab Tantrayana di Tibet
Mazhab Tantrayana di Tibet memiliki naskah terjemahan kitab suci yang kebanyakan berasal dari India dan terdiri lebih dari 4.566 naskah. Kumpulan naskah dalam bahasa Tibet tersebut digolongkan dalamdua bagian, masing-masing :
Bkahgyu r(dibaca Kanjur) yang sebahagian besar adalah terjemahan dari bahasa Sanskerta dan sebahagian kecil terjemahan dari bahasa mandarin, terdiri dari 3.458 naskah serta dihimpun dalam tiga bagian, yakni :
1.      Dulva (Vinaya), terdiri dari 13 bagian, merupakan peraturan-peraturan,disiplin, tata tertib untuk anggota Sangha.
2.       Do (Sutra), terdiri dari 66 bagian yang mencatat ajaran Hyang Buddha, seperti halnya dalamsutra-sutra canon pali dan sutta-sutta kanon sanskerta dan selalu diawali dengan "Demikianlah yang saya dengar".
3.      Chon non pa (Abhidhamma), terdiri dari 21 bagian yang merupakan pelajaran
Filsafat dan pembahasan dari ajaran Hyang/Sang Buddha.
Bstanghyur  (dibaca Tanjur), merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) yang dihimpun dalam dua kitab :
1.      Tantra (Rgyud), terdiri dari 22 bagian yang berisi doa-doa,dharani-dharani, mudra, mandala dan lain-lainnya.
2.      Sutra, merupakan pembahasan atau komentar (tafsir) dari Do (sutra).



 Ritual dan Praktek
Jalan Tantra berusaha untuk mengubah nafsu manusia dasar keinginan dan kemalasan dalam pertumbuhan rohani dan pembangunan. Jadi, bukannya menyangkal primal seksual dan sensual mendesak seperti dalam agama Buddha tradisional, praktek Tantra menerima ini mendesak kehidupan sebagai suci energi kekuatan, yang dimurnikan dan berubah menjadi kekuatan sehat dan sehat menghubungkan individu dengan kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Untuk menjadi sukses dengan kerja Tantra, seseorang harus memiliki keterampilan dalam kontrol diri dan penerimaan diri dan orang lain.
Tindakan atau perbuatan itu ada 3 macam, yakni: tubuh, vokal, dan mental. Pikiran atau perbuatan mental, darimana pikiran yang dikonsentrasikan ialah keserbaragaman yang paling manjur, menentukan ucapan dan tindakan yang mempengaruhi pikiran. Perbuatan sakral dari Tantra bertujuan menghasilkan suatu transformasi mengenai kesadaran dengan usaha dari (secara spiritual) suara dan gerakan yang sangat mempunyai arti secara spiritual.
Dengan suara yang sangat mempunyai arti secara spiritual dengan berbagai ‘dharani atau mantra’ yang disebabkan oleh akibat yang sangat besar pengulangan yang konstan ada pada pikiran, menduduki di dalam Buddism Tantra suatu posisi yang sangat penting. Gerakan yang sangat mempunyai arti itu secara spiritual mencakup semuanya yang diperbuat oleh sebagian tubuh, seperti mudra yang dilakukan oleh tangan, dan yang diperbuat mengenai sembah dan tari. Karena ritual dan perbuatan sakral dapat dibentuk hanya dengan tubuh. Tantra jauh dari menurunkan tubuh menyambutnya sebagai kapal keselamatan dan memujanya dengan suatu ekstent yang tidak terdengar dari dalam setiap bentuk lain Buddism. Lebih dari itu, tidak hanya bagian tubuh dari alam semesta material, tapi banyak obyek material dikerjakan untuk tujuan sakramen; karena itu Tantra menganggap dunia itu juga bukan sebagai suatu rintangan tapi sebagai suatu bantuan Penerangan, memuliakannya sebagai gambar hidup dari keselamatan dan wahyu dari Yang Absolut. Sebagai ganti mengorbankan dunia itu seseorang harus hidup di dalamnya, di dalam suatu jalan seperti itu bahwa kehidupan dunia sendirinya diubah ke dalam kehidupan transendental.
Menurut pandangan Tantra, menanamkan tubuh itu dengan kesucian adalah kemungkinan dari tindakan manusia pada pikiran bukan hanya oleh gerakan anggota tubuh tapi dengan memainkan pernafasan dan air mani, semuanya dihubungkan secara intim bahwa dengan mengendalikan setiap salah satu dari semua itu dan sisanya yang dua itu dikendalikan secara otomatis. Lagi, dihubungkan tidak sebanyak dengan perumusan filsafat yang luas daripada dengan notulen yang mendetail mengenai latihan spiritual, aspek-aspek tertentu yang terlalu kompleks, sulit, dan sedikit untuk disetujui dengan tulisan. Tantra tentu saja sangat menegaskan perlunya menerima inisiasi atau upacara dan petunjuk dari sorang guru spiritual yang ahli.

Kesimpulan
Tantra merupakan aliran dalam agama buddha (mahayana) yang bersifat esoteric atau (rahasia). Aliran ini mengutamakan praktek-perakatek  atau upacara-upacara keagaman yang bersipat mistik dengan sarana-sarana seperti: mudra,daranai mantra serata mandalapa. Tantra ini juga menekankan praktek mistik dalam usahanya mencapai persatuan dengan kosmos dan melalui sarana-sarana seperti sikap tubuh (Mudra), konsentrasi pada ucapan (Dharani dan Mantra) dan pikiran (Yoga) yang dibantu dengan simbol religius lainnya. Aliran tantra di Tibet terdiri dari 4 aliran besar dan masing masing mempunyai perbedaan dalam hal penggunaan istilah-istilah teknis, sudut pandang penjelasan, jenis pelaku rohani yang ditekankan, dan pendekatan pada meditasi atas kehampaan dalam tantra tertinggi
Referensi
·         http://bhadraputra.blogspot.com/2012/10/aliran-tanta.html (diakses tanggal 23 maret 2013)





Tidak ada komentar:

Posting Komentar