Rabu, 20 Februari 2013

WAYANG KULIT


WAYANG KULIT


A.    Pengertian Wayang kulit
Wayang kulit adalah seni tradisional Indonesia yang terutama berkembang di Jawa. Wayang berasal dari kata Ma Hyang artinya menuju kepada yang maha esa, . Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang yang juga menjadi narator dialog tokoh-tokoh wayang, dengan diiringi oleh musik gamelan yang dimainkan sekelompok niyaga dan tembang yang dinyanyikan oleh para pesinden. Dalang memainkan wayang kulit di balik kelir, yaitu layar yang terbuat dari kain putih, sementara di belakangnya disorotkan lampu listrik atau lampu minyak (blencong), sehingga para penonton yang berada di sisi lain dari layar dapat melihat bayangan wayang yang jatuh ke kelir. Untuk dapat memahami cerita wayang (lakon), penonton harus memiliki pengetahuan akan tokoh-tokoh wayang yang bayangannya tampil di layar.
B.       MACAM-MACAM WAYANG
Ada beberapa wayang yang kita jumpai dan bermacam-macam pula bahan yang membentuknya. Beberapa macam tersebut sebagai berikut:
1.    Wayang Purwa Yaitu wayang kulit yang membawakan lakon atau ceritera dari kitab Mahabarata, Ramayana dan Lokapala.
2.    Wayang Madya Yaitu wayang kulit yang membawakan lakon sesudah zaman Prabu Parikesit di Astina, Sebelum kraton wamenang.
3.    Wayang Gedog Yaitu wayang kulit yang mengambil lakon dari cerita babad kediri sampai majapahit di Jawa
4.    Wayang Klithik Yaitu wayang yang bentuknya seperti wayang kulit, tetapi terbuat dari kayu pipih. Mengambil lakon babad tanah Jawa di zaman Kediri dan Majapahit dan Pajajaran.
5.    Wayang Suluh Yaitu wayang kulit yang mengambil lakon dari babad tanah Jawa sejak zaman Demak dampai Mataram
6.    Wayang Kancil Yaitu wayang yang terbuat dari kulit seperti manusia biasa (digambar dari samping), membawakan lakon tentang kejadian sehari-hari (digunakan sebagai media penerangan masyarakat.
7.    Wayang Menak Yaitu wayang yang berbentuk bobeka kayu dan diberi pakaian, ceriteranya mengenai babad Menak (Umar Maya, Umar Madi, dll.
8.    Wayang Golek Yaitu wayang yang berbentuk bobeka kayu dan diberi pakaian, ceriteranya diambil dari Kitab Mahabarata dan Ramayanan memakai bahasa Sunda (Jawa Barat)
9.    Wayang Beber Yaitu gambar wayang yang dilukiskan pada kain putih/kertas terdiri dari 4 gulung yang berisi 16 adegan.
10.    Wayang Wong/Orang Yaitu wayang yang diperankan oleh orang diatas panggung dengan tonil dalam pementasannya, ceritanya diambil dari kitab Mahabarata dan Ramayana.
C.    Pembuatan
           Wayang kulit dibuat dari bahan kulit kerbau yang sudah diproses menjadi kulit lembaran, perbuah wayang membutuhkan sekitar ukuran 50 x 30 cm kulit lembaran yang kemudian dipahat dengan peralatan yang digunakan adalah besi berujung runcing berbahan dari baja yang berkualitas baik. Besi baja ini dibuat terlebih dahulu dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang runcing, pipih, kecil, besar dan bentuk lainnya yang masing-masing mempunyai fungsinya berbeda-beda. Namun pada dasarnya, untuk menata atau membuat berbagai bentuk lubang ukiran yang sengaja dibuat hingga berlubang. Selanjutnya dilakukan pemasangan bagian-bagian tubuh seperti tangan, pada tangan ada dua sambungan, lengan bagian atas dan siku, cara menyambungnya dengan sekrup kecil yang terbuat dari tanduk kerbau atau sapi. Tangkai yang fungsinya untuk menggerak bagian lengan yang berwarna kehitaman juga terbuat berasal dari bahan tanduk kerbau dan warna keemasannya umumnya dengan menggunakan prada yaitu kertas warna emas yang ditempel atau bisa juga dengan dibron, dicat dengan bubuk yang dicairkan. Wayang yang menggunakan prada, hasilnya jauh lebih baik, warnanya bisa tahan lebih lama dibandingkan dengan yang bront.
D.     ALAT MUSIK
Penggunaan alat muzik dalam persembahan wayang kulit adalah berbeza antara satu dengan yang lain. Peralatan muzik untuk Wayang Kulit Kelantan ialah gong, (tetawak), gendang, geduk, gedombak, canang, mong, serunai dan kesi. Bagi Wayang kulit Purwo pula alat-alat muzik yang digunakan ialah gong besar (gong Agong), gong suwukan, gambang, kempul, kenong, gender, slentem, demung, saron, peking (saron penerus), ketok / kompang, rebab dan gendang. Antara jenis-jenis lagu yang dimainkan pula ialah seperti Lagu Bertabuh, Perang, Seri Rama, Kabar Manja, Buluh Seruas, Pandan Wangi dan banyak lagi.

E.      Dalang
Kata Dalang ada yang mengartikan berasal dari kata Dahyang, yang berarti juru penyembuh berbagai macam penyakit. Dalang dalam “jarwo dhosok” diartikan pula sebagai “ngudal piwulang” (membeberkan ilmu), memberikan pencerahan kepada para penontonya. Untuk itu seorang dalang harus mempunyai bekal keilmuan yang sangat banyak. Berbagai bidang ilmu tentunya harus dipelajari meski hanya sedikit, sehingga ketika dalam membangun isi dari ceritera bisa menyesuaikan dengan perkembangan jaman dan nilai-nilai kekinian.Dalang adalah seorang sutradara, penulis lakon, seorang narator, seorang pemain karakter, penyusun iringan, seorang “penyanyi”, penata pentas, penari dan lain sebagainya. Kesimpulannya dalang adalah seseorang yang mempunyai kemampuan ganda,dan juga seorang manager, paling tidak seorang pemimpin dalam pertunjukan bagi para anggotanya.
F.    Lakon

http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ADxn8G_J2SDQJM:http://pitoyo.com/duniawayang/galery/data/media/30/cakil_solo.jpgDalam dunia pewayangan ada tokoh yang bernama Cakil atau Gendir Penjalin atau Dityakala Marica. Tokoh ini tidak dikenal dalam kitab asli Mahabarata maupun Ramayana. Tokoh ini memang produk lokal Jawa (Nusantara) layaknya tokoh wayang Gareng, Petruk, Bagong. Barangkali butuh penelitian untuk mengetahui siapa pembuat tokoh ini. Kalau penulis wayang RM Sayid menyebut wayang muncul pertama kali seputaran abad 15-16, tokoh Cakil itu sudah muncul di seputaran kurun waktu itu. Bahkan, beberapa sumber menyebut tubuh Cakil yang berwajah raksasa ini merupakan imajinasi dari sebuah sengkalan (penandaan tahun dalam kalender Jawa) yang menandakan kapan tokoh Cakil dibuat pertama kali. Sebagaimana Gareng, Petruk, dan Bagong, Cakil juga merupakan profil rakyat kecil. Seorang kawula yang diberi tugas sebagai penjaga hutan. Dari gerakan tokoh Cakil ini bisa digunakan oleh penonton wayang kulit sebagai ukuran kemampuan dalang dalam memainkan wayang.
Kelincahan gerakan Cakil dalam menari sangat tergantung sang dalang dalam mengolah wayang. Cakil dipersonifikasi bukan hanya jelek wajahnya, tetapi juga perilakunya. Sebagai penjaga hutan, dalam wacana pewayangan, Cakil selalu dikenal sebagai tokoh alu amah (serakah), suka merampas harta orang. Anehnya, dalam setiap pementasan oleh dalang siapa pun, tak pernah tergambar perangai seperti itu. Cakil hanya digambarkan mencoba meminta keluar para ksatria yang akan masuk hutan yang tak jelas tujuannya. Tidak pernah digambarkan Cakil merampas harta para ksatria itu. Bahkan, gambaran Cakil seperti itu menjadi tidak rasional, ketika dikisahkan bahwa sahabat yang selalu menemani Cakil adalah Togog, tokoh yang masih saudara sekandung dengan para dewa, yaitu Betara Ismaya (Semar) dan Betara Guru.
Tokoh Cakil seperti membuka wacana untuk siapa saja yang ingin menggumuli kehadirannya dalam kehidupan manusia. Karena itu, wajar jika muncul anggapan Cakil sesungguhnya adalah profil rakyat, yang selalu muncul dalam lakon wayang apa saja. Ya, rakyat yang selalu tampil dalam setiap lakon sejarah kehidupan. Dalam lakon apa saja, baik itu dalam kancah politik, ekonomi sosial, budaya, rakyat senantiasa hadir. Hanya, dalam perjalanan sejarah kehadirannya, rakyat hanya menjadi obyek. Rakyat hanya menjadi sumber kekuatan untuk sebuah pencapaian yang tidak selalu untuk kesejahteraan bersama. Karenanya, rakyat tetap miskin dan salah-salah nasibnya seperti Cakil, mati dengan senjatanya sendiri. Mati dengan senjata sendiri artinya tak ada yang bertanggung jawab. Nasib rakyat, hak-hak rakyat sepertinya selalu berada dalam kotak misteri. Tak ada yang berani ambil tanggung jawab, bersama rakyat “angkat senjata” agar rakyat punya nilai juang yang hakiki. Bahkan, sampai pada kematian pun kehidupan rakyat masih saja menyimpan misteri.
Persis seperti kematian Munir yang mati dengan senjatanya sendiri, yaitu perjuangan hak-hak asasi manusia. Semua orang, semua yang terlibat, seperti cuci tangan membentuk sebuah korporasi yang cenderung menghilangkan jejak. Makanya, sebagai penjaga hutan hak Cakil hanya bisa mengingatkan memohon para ksatria untuk keluar dari dalam hutan. Ketika para ksatria itu membabat hutan, mengeksploitasi habis-habisan hasil hutan, Cakil tak berdaya. Kehidupan Cakil adalah kehidupan masyarakat pinggiran hutan yang tak pernah sejahtera dari hasil hutan. Bahkan, sering kali rakyat ditangkap karena mencuri beberapa gelondong kayu. Pemberontakan keadilan tak pernah keluar dari mulut rakyat, meskipun melihat orang-orang tambun seenaknya menjual produksi hutan.
Rakyat memang punya wakil di “atas” sana. Di “atas” sana rakyat menaruh harapan. Tetapi, harapan itu terhenti pada sisi lain perangai Cakil, yang dikenal banyak omong dan pandai menari, bersilat. Perjuangan wakil rakyat terkadang hanya menjadi sebuah keindahan tarian persilatan dan diplomasi yang berbusa-busa. Pertengkaran yang menjurus perkelahian sempat terjadi di forum wakil rakyat, namun hasilnya tetap saja: cakil-cakil rakyat yang menari, sekadar tontonan.

PEBEDAAN TATA CARA PUJA BHAKTI


PEBEDAAN TATA CARA PUJA BHAKTI


SEKTE

PERBEDAAN


Theravada
Menggunakan Tipitaka berbahasa Pali turun- temurun hingga sekarang.
Memegang teguh Sila, Samadhi, Panna.
Proses penghormatan kepada Triratna dengan cara membaca parittatuntunan kebaktian yang menggunakan bahasa pali namun dalam tradisi Theravada tidak diiringi dengan “alat musik”.
Tujuan akhirnya adalah mencapai tingkat kesucian Arahat ( Selesainya tugas kehidupan).
Mahayana
Menggunakan Tipitaka berbahasa Sansekerta.
Memegang teguh nilai- nilai ritual.
Selain penghormatan dan pemujaan terhadap Sakyamuni Buddha yang merupakan manussi Buddha untuk kehidupan kurun waktu masa kini, juga dikenal dan dilakukan penghormatan dan pemujaan terhadap Dhyani Buddha, Dhyani Bodhisattva, Manussi Buddha, maupun Budhisattva-Mahasattva dan Buddha- Buddha yang lainnya.
Mereka menggunakan mantra yang berbahasa sansekerta dan diiringi pula dengan “alat musik”.
Tujuan akhirnya adalah Bodhisatva Sila ( Mencapai tingkat kesucian Arahat setelah semua makhluk terbebas dari Samsara.
Tantrayana
Mempunyai tradisi yang sangat berbeda dari 3 kelompok besar yaitu: Kharmapha, Gilumpha, dan Nimampha.
Memegang teguh ritual dan Samadhi.




Referensi
·         Mukti, Krishnanda wijaya. 2004. Membuka Wawasan Intersektarian. Jakarta: Penerbit Dian Dharma
·         Dhammananda, sri. 2004. Keyakinan Umat Buddha. Jakarta: Yayasan Penerbit Karaniya.
·         Priastana, Dhammasukha Jo.1994. Pokok Pokok Dasar Mahayana. Jakarta: yayasan Yasodhara Puteri.

Pembabaran Kesunyataan Yang Petama (Dhammaduta)


Pembabaran Kesunyataan Yang  Petama
(Dhammaduta)

Latar Belakang
Sang Budddha yang, dalam waktu singkat, berhasil memberi penerangan pada enam puluh siswa memutuskan untuk mengirim mereka sebagai pembabar kesunyataan untuk mengajarkan Dhamma baru Beliau bagi semua tanpa perbedaan. Sebulum mengutus mereka ke berbagai arah beliau menasihati mereka sebagai berkiut :
            “aku telah bebas, o para bhikkhu, dari semua belenggu, baik surgawi maupun mansiawi”.”kalian juga, o para bhikkhu, telah bebas dari semua belenggu, baik surgawi maupun manusiawi”.
            “pergilah, o para bhikkhu, demi kebaikan semua pihak, atas dasar kasih sayang kepaa dunia, demi kebaikan, manfaat, dan kebahagiaan para dewa dan manusia. Janganlah dua orang pergi dalam sat arah. Ajarkanlah, o para bhikkhu, dhamma, yang indah pada awal, indah pada pertengahan, indah pada akhirnya, baik yang tersirat maupun tersurat. Nyatakanlah Kehidupan Suci, yang sempurna dan murni”.
            “Ada manusia dengan sedikit debu pada mata mereka, yang jika tidak mendenggar dhamma akan jatuh. Mereka itulah yang akan memaham dhamma”.
            “aku juga, o para bhikkhu, akan pergike Uruvela di Senanigama, dalam rangka mengajar dhamma”.
“Kalian yang telah melaksanakn tugas kalian, kibarkanlah Bedera Orang Bijaksana. Ajarkanlah Dhamma Agnng. Bekerjalah demi kebaikan pihak lain



Pengertian Dharmaduta
Dharmaduta, secara etimologis berasal dari dua kata yaitu “Dhamma” artinya ajarn Buddha sedangkan ‘Duta” adalah petugas atau pengemban. Dharma duta berarti Pengemban dan petugas Dhamma. Dharmaduta dalam terminologi Buddhis dikenal sebagai penyebar atau pengkhotbah Dhamma.
Tujuan Dharmaduta
            Secara khusus bertujuan untuk :
1.      Memperkokoh dan mempertahankan kelangsungan Ajaran Sang Buddha.
2.      Agar para pendengar dapat mengikuti dan melaksanakan Dhamma dan Vinaya secara benar.
3.      Melindungi Ajaran Buddha dari Usaha penyelewengan , sehingga umat menjadi bijaksana.
Buddha menyebutkan tujuan dhammaduta, agar umat menjadi :
1.      Bijaksana dalam melaksanakan peraturan (Sila/ Vinaya) secara benar
2.      Cakap dan terpelajar.
3.      Memelihara Dhamma.
4.      Hidup sesuai Dhamma.
5.      Berpegang teguh pada pemimpin yang telah ditetapkan ( dalam musyawarah ).
6.      Memepelajari sabda- sabda , khotbah- khotbah Sang Buddha, kemudian mnerangkan kepada orang lain.
Sejarah Dhammaduta
Pembabaran Roda Dhamma yang pertama kali di taman Rusa Isipatthana , itulah yang menjadi tonggak pertama sisitem ke-Dharmadutaan. Dharmaduta pertama kali dilaksanakan pada masa pemerintahan raja Asoka yaitu di tandai dengan pengiriman 9 kelompok dharmaduta ke sembilan penjuru, termasuk pengiriman dharmaduta ke Srilanka yang dipimpin oleh Arahat Mahinda Thera, putra dari Raja Asoka.Menurut mahavamsa , setelah mendapat perbekalan yang cukup Arahat Mahinda Thera bersama Thera Itthiya, Uttiya, Sambala, dan Baddhasala, Sumana Samanera  Upasaka Bhanduka terbang ke Srilanka, 236 setelah Mahaparinibbana dari Sang Buddha.

kesimpulan
Jadi Sang Buddha adalah guru agama pertama yang mengutus para siswa Beliau yang sudah ditabiskan dan mencapai penerangan untuk membabarkan Ajaran atas dasar kasih sayang, kepada pihak lain. Dengan tanpa tempat tinggal tetap, seorang diri dan tanpa uang, para utusan pertama ini diharapkan berkelana dari tempat ke tempat untuk mengajarkan Dhamma yang mulia. Mereka tidak mempunyai kekayaan materi lain kecuali jubah yang melinduni tubuhnya mereka dan mangkuk untuk menerima makanan. Karena daerah sangat luas dan pekerja relatif sedikit mereka menasehati agar melakukan perjalanan keagamaan mereka sendiri. Karena mereka adalah arahat yang telah bebas dari segala keterikatan indria, tujuan utama dan satu-satnya adalah mengajar Dhamma serta menyatakan Kehidupan Suci (Brahmacariya). Peranan asli para arahat yang telah mencapai tujuan mereka, adalah bekerja untuk meninggikan moral masyarakat dengan contoh dan tata susila. Pengmbangan mater, walaupun perlu, bukanlah urusan mereka.

DHARMAYATRA


DHARMAYATRA
Disusun guna memenuhi tugas akhir semester 1
mata kuliah Riwayat Hidup Buddha

LOGO STAB.jpg

Disusun oleh:
Andi Setiyono
( 11.1.199 )

SEKOLAH TINGGI AGAMA BUDDHA (STAB) SYAILENDRA
SEMARANG
2011


KATA PENGANTAR

Namo Buddhaya,
Puji syukur penulis  panjatkan kepada Sang Tiratna atas berkah dan  karma baik yang telah diberikan kepada penulis, sehingga dapat menyelesaikan  makalah ini yang disusun guna memenuhi tugas pada semester I mata kuliah Riwayat Hidup Buddha Gotama STAB Syailendra Semarang
Penulis menyadari bahwa makalah ini dapat diselesaikan atas bimbingan serta arahan dari semua pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1.    Hastho Bramantyo,S,fil, M.A. selaku Ketua STAB Syailendra.
2.    Bpk Supriyanto S,Ag. selaku dosen mata kuliah Riwayat Hidup Buddha Gotama yang telah memberikan petunjuk dan pengarahan.
3.    Bapak dan Ibu serta teman-teman yang mendukung penulis untuk terus maju, sehingga sangat membantu dalam makalah ini.
4.    Serta semua pihak yang telah membantu terselesainya makalah ini.
Akhirnya penulis menyampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis dan dapat berguna bagi para pembaca.
Semarang,   Desember 2011

                                                                                                            Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTARi
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN                                                                
a.     Latar Belakan
b.     Rumusan Masalah        
BAB II PEMBAHASAN ISI
a.     Pengertian Dharmmayatra
b.     Tujuan dan Manfaat Dharmmayatra
c.      Tempat-tempat Dharmmayatra
BAB III PENUTUP
a.     Kesimpulan         
b.     Daftar Pustaka




BAB I
PENDAHLUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan agama buddha yang sangt pesat di dunia yang ditandai dengan didirikannya bangunan-bangunan bersejarah seperti stupa, vihara, candi  dan lain-lain, dengan adanya bangunan-bangunan tersebut  yang semakin memperkuat keyakinan kepada sang triratna, buddha, dhamma serta sangha sekaligus menunjukkan kebanggaan sebagai umat buddha.
Manfaat yang didapat sebagai hasil karma baik karena berdarmayatra adalah besar sekali. Karena manfaat berdarmayatra ini akan membantu dan menentukan kelahiran kita pada kehidupan yang akan datang. Ada tempa-tempatt yang layak di ziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan menginspirasikan kebangkitan spritual dalam diri mereka.

B.   Sistematik Masalah
Bab I Pendahuluan                                                                             
1)      Latar Belakan
2)      Rumusan Masalah          
Bab II Pembahasan Isi
1)      Pengertian Dharmmayatra
2)      Tujuan dan Manfaat Dharmmayatra
3)      Tempat-tempat Dharmmayatra
Bab III Penutup
1)      Kesimpulan       
2)      Daftar Pustaka

BAB II
PEMBAHASAN

A.   Pengertian Dharmayatra
            Dharmayatra terdiri dari dua kata, yaitu : dhamma dan yatra. Dharmma (Pali) atau Dharma (Sanskerta) artinya kesunyataan, benar, kebenaran, hukum, ajaran, suci, ide, segala sesuatu, segala keadaan dan sebagainya. Sedangkan yatra (Sanskerta-Pali) artinya ditempat mana. Jadi kata dharmayatra atau Dhammayatra arti harfiahnya adalah di tempat dharma (dhamma). Dengan demikian Dharmayatra atau dhammayatra yang dimaksud adalah tempat yang berhubungan dengan dhamma, yang perlu dikunjungi oleh umat Buddha. Karena mengunjungi tempat dhamma inilah maka akhirnya dhamma (dharma) yatra, secara umum berarti mengunjungi tempat-tempat suci yang berhubungan langsung dengan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama. Dalam Bahasa Indonesia kita bisa menyebutnya WISATA DHARMA.

B.   Tujuan dan Manfaat Dharmayatra
Manfaat yang didapat sebagai hasil karma baik karena berdarmayatra adalah besar sekali. Karena manfaat berdarmayatra ini akan membantu dan menentukan kelahiran kita pada kehidupan yang akan datang.
            Ada empat tempat yang layak di ziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan menginspirasikan kebangkitan spritual dalam diri mereka. Tempat-tempat tersebut adalah Lumbini, Bodhgaya, Taman Rusa Isipatana dan Kusinara.
            Bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga. (Mahaparinibbana Sutta).

            Buddha juga menjelaskan bahwa jika pada peziarah ini meninggal saat berziarah ke tempat-tempat tersebut dengan hati yang penuh bakti dan keyakinan, maka mereka akan terlahir di alam bahagia.
            Keempat tempat tersebut dapat membangkitkan semangat kerohanian. Jika seornag umat Buddha yang penuh dengan keyakinan dan bakti kepada Buddha mengunjungi tempat cusi, is akan merasa sangat bahagia. Namun Buddha sendiri tidak mewajibkan kita untuk mengunjungi tempat-tempat suci. Tujuan utama dari perjalan ke tempat-tempat suci adalah untuk menumbuhkan keyakinan kita terhadap ajaran Buddha.
            Ada banyak makna yang dapat kita petik dan kita renungkan dari perjalanan ke keempat tempat suci ini. Di Lumbini, tempat kelahiran Bakal Buddha, kita dapat merenungkan bahwa kehadiran seorang Buddha di dunia ini sangatlah berharga. Kita harus mensyukuri bahwa saat ini kita terlahir sebagai manusia dan mengenal ajaran Buddha. Tidak semua makhluk di dunia ini seberuntung kita. Oleh sebab itu kita hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Kita harus giat memperlajari Dharma dan mempraktikannya agar hidup kita menjadi lebih bahagia lagi.
            Di Bodhgaya, tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan, kita bisa merenungkan bahwa Bodhisatta mampu mencapai Pencerahan dengan penuh perjuangan. Sebenarnya menjadi Buddha bukanlah hanya bisa dicapai oleh Petapa Gotama. Semua makhluk mempunyai kesempatan untuk menjadi Buddha, termasuk kita semua. Dengan merenungkan ini kita hendaknya lebih semangat dalam melakukan kebajikan agar dapat merealisasi Kebuddhaan seperti Buddha Gotama.
            Taman Rusa Isipatana adalah tempat Buddha pertama kali membabarkan Dharma. Jika kita berada di tempat ini, renungkan bahwa Dharma telah dibabarkan dengan sempurna. Buddha mengajarkan bahwa hidup kita diliputi penderitaan. Buddha juga mengajarkan sebab dari penderitaan dan jalan untuk mengakhiri penderitaan tersebut. Oleh kerana itu, jalanilah ajaran Buddha dengan baik. Dengan demikian kita dapat mengurangi dan mengakhiri penderitaan.
            Di Kusinara, tempat Buddha merealisasi Parinibbana (wafat), kita dapat merenungkan bahwa segala sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur. Sebelum wafat, Buddha berkata, “Vayadhamma sankhara, appamadena sampadetha,” yang berarti segala sesuatu yang terbentuk pasti akan hancur, berjuanglah dengan penuh kesadaran. Inilah pesan terakhir Buddha kepada kita semua. Semua yang terbentuk akan hancur, oleh sebab itu kita tidak boleh terlalu melekat, pada segala hal. Yang terpenting dalam hidup ini adalah berjuang untuk selalu berpikir, berucap, dan berbuat secara bajik dan bijak.

c.      Tempat-tempat Dhammayatra
                Menjelang Parinibbana, Buddha menguraikan khotbah Mahaparinibbana Sutta. Di dalam khotbah ini, Buddha menjelaskan tentang tempat-tempat yang menjadi tujuan Dharmayatra dan manfaat melakukan kegiatan Dharmayatra tersebut. Tempat-tempat Dharmayatra yang disebutkan dalam Mahaparinibbana Sutta oleh sang Buddha kepada Bhikkhu Ananda adalah tempat yang sakral bagi umat Buddha karena keempat tempat ini adalah tempat-tempat yang berhubungan langsung dengan empat peristiwa bersejarah yang terjadi dalam kehidupan Buddha Gotama. Keempat tempat tersebut adalah :

1.      Taman Lumbini

      Taman Lumbini sekarang dikenal dengan sebutan Rummindei (Nepal). Sekitar 2500 tahun silam, telah terjadi suatu peristiwa maha besar yang menggetarkan jagat raya, yaitu lahirnya seorang Bakal Buddha (Bodhisatta). Peristiwa itu terjadi saat bulan purnama di bulan Waisak pada tahun 623 SM. Bakal Buddha adalah putra Raja Suddhodana dari suku Sakya.
      Lumbini saat ini dilestarikan sebagai salah satu tempat ziarah umat Buddha. Banyak umat Buddha yang mengadakan perjalanan dan berziarah di tempat ini sebagai penghormatan kepada Buddha.
      Di Taman Lumbini ini terdapat sebuah pilar setinggi 22 kaki yang didirikan oleh Raja Asoka (duku dinamai Pilar Rummindei). Pilar ini dibangun untuk memperingati tempat kelahiran seorang manusia besar. Tak jauh dari situs tempat kelahiran Bodhisatta, terdapat sebuah vihara kecil yang bernama Vihara Mayadevi. Vihara ini dibangun sebagai penghormatan kepada Ibunda Bodhisatta yaitu Ratu Mahamaya.
Taman Lumbini adalah saksi dari kelahiran seorang Bakal Buddha.

2.      Bodhgaya

      Bodhgaya adalah tempat Petapa Gotama mencapai Pencerahan atau Bodhi, Bodhgaya berada di pinggir Sungai Neranjara yang sekarang telah kering. Dulu, tempat ini adalah sebuah hutan yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sebutaan Hutan Gaya, namun sejak Petapa Gotama mencapai Pencerahan di tempat tersebut, maka Hutan Gaya akhirnya populer dengan nama Bodhgaya atau Buddhagaya.
      Saat ini di Bodhgaya terdapat sebuah vihara bernama Vihara Mahabodhi, yang menjulang setinggi 52 meter. Vihara ini merupakan wihara terbesar di India. Di sisi belakang bangunan dan barat bangunan wihara terdapat pohon bodhi yang diyakini merupakan turunan dari pohon yang menaungi Petapa Gotama bermeditasi dan mencapai Bodhi menjadi Buddha. Di dekat pohon tersebut terdapat papan batu pasir berwarna kemerahan yang dipandang sebagai tempat duduk Petapa Gotama saat bermeditasi mencapai Kebuddhaan.
      Selain Vihara Mahabodhi, terdapat pula Vihara Sujata di Bodhgaya. Vihara Sujata tampak sederhana. Di vihara ini, biasanya para peziarah membaca paritta dan merenungkan kembali kisah yang telah terjadi di tempat itu lebih dari 2.500 tahun. yaitu Sujata mempersembahkan nasi susu kepada Petapa Gotama sebagai makanan terakhirnya sebelum mencapai Pencerahan.


3.      Taman Rusa Isipatana

      Ada dua peristiwa penting di Taman Rusa Isipatana. Yang pertama adalah dibabarkannya ajaran Buddha untuk pertama kalinya kepada lima petapa, yaitu Dhammacakkappavatthana Sutta, yang berisi tentang empat Kebenaran Mulia, termasuk di dalamnya Jalan Mulia Berfaktor Delapan. Peristiwa penting kedua adalah terbentuknya Sangha Bhikkhu untuk pertama kalinya. Usai mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha, kelima petapa merasa sangat bahagia, kemudian memohon kepada Buddha untuk ditahbiskan menjadi Bhikkhu. Sejak saat itu lengkaplah Tiga Permata: Buddha, Dharma, dan Sangha.
      Taman Rusa Isipatana sekarang dikenal dengan nama kota Sarnath. Dikota ini terdapat Stupa Dhamekh, yang dulunya bernama Stupa Dhmmacakka. Stupa ini dibangun oleh Raja Asoka, Selain itu, terdapat vihara yang bernama Mulagandhakuti. Sarnath juga dikenal dengan Pilar Asoka yang terbuat dari batu-pasir. Pilar ini bermahkotakan empat patung singa besar yang merupakan lambang dari Republik India. Bentuk roda seperti yang terdapat pada mahkota pilar ini juga menghiasi tiga warna bendera Negara India. Pada pilar tersebut terdapat pahatan dari titah raja yang berbunyi, “Tidak ada seorang pun yang boleh menyebabkan terpecah-belahnya kubu para Bhikkhu.” Kalimat ini mengandung peringatan terhadap para Bhikkhu dan Bhiksuni untuk menjaga keutuhan Sangha dan setia terhadap vinaya (peraturan disiplin Bhikkhu dan Bhiksuni).


4.       Kusinara

        Kusinara sekarang dikenal dengan nama Kushinagar. Kushinagar adalah tempat ziarah keempat untuk seluruh umat Buddha. Di tempat ini, dengan kasih sayangnya, Buddha mempersilakan Subhada untuk bertemu dengan-Nya. Subhada kemudian menjadi siswa terakhir yang ditahbiskan Buddha sebelum Buddha merealisasi Parinibbana.
        Di Kusinara inilah, pada bulan purnama Waisak tahun 543 SM, Buddha wafat. Setelah wafat, Buddha tidak lagi terikat pada tubuh fisiknya. Saat itulah, sembari berbaring di antara dua pohon sala kembar, Buddha mencapai Nibbana Tanpa Sisa atau Parinibbana.
        Di Kusinara dapat dijumpai sebuah cetiya yang sekarang tinggal tumpukan batu merah saja. Orang-orang menyebut cetiya ini dengan nama Cetiya Makutabhandana atau sekarang dikenal sebagai Stupa Rambhar. Di cetiya inilah jenazah Buddha dikremasi tujuh hari setelah Beliau wafat.
Di luar India terdapat juga tempat-tempat suci yang layak untuk kita ziarahi. Ada banyak makna Dharma yang dapat kita pelajari dari candi-candi Buddha. Meskipun candi-candi tersebut bukanlah tempat yang berhubungan langsung dengan kehidupan Buddha, namun di sana terdapat banyak simbol yang mengandung ajaran Buddha.
 

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

            Dharmayatra atau dhammayatra adalah tempat yang berhubungan dengan dhamma, yang perlu dikunjungi oleh umat Buddha. Karena mengunjungi tempat dhamma inilah maka akhirnya dhamma (dharma) yatra, secara umum berarti mengunjungi tempat-tempat suci yang berhubungan langsung dengan berbagai peristiwa penting dalam kehidupan Buddha Gotama. Dalam Bahasa Indonesia kita bisa menyebutnya WISATA DHARMA.
Ada empat tempat yang layak di ziarahi oleh umat yang penuh keyakinan dan menginspirasikan kebangkitan spritual dalam diri mereka. Tempat-tempat tersebut adalah Lumbini, Bodhgaya, Taman Rusa Isipatana dan Kusinara. Bagi mereka yang berkeyakinan kuat melakukan ziarah ke tempat-tempat itu, maka setelah mereka meninggal dunia, mereka akan terlahir kembali di alam surga. (Mahaparinibbana Sutta)

Daftar Pustaka
Pedoman guru, Jakarta Pusat :pendidikan agama buddha untuk sekolah menengah pertama, 2004